Penilaian Pengamat Asing perihal Indonesia beli J-10C dari Cina

Cakra-news.my.id – Mengapa dengan tiba- tiba Pemerintah Indonesia memutuskan membeli pesawat tempur J-10C buatan Cina, ini mengejutkan diberbagai pihak ini juga berkaitan dengan kunjungan ke Negaraan Perdana Mentri Cina baru – baru ini , rencana pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI untuk membeli jet tempur Chengdu J-10 dari China sepertinya mulai menunjukkan kenyataan.

Hal itu setelah Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin bertemu Duta Besar (Dubes) RI untuk China Djauhari Oratmangun di kantor Kemenhan, Jakarta Pusat,

Sjafrie mengaku, berbincang dengan Dubes Djauhari untuk membahas sejumlah isu strategis. Seperti, percepatan swasembada pangan, modernisasi alutsista TNI, hingga pengembangan industri farmasi pertahanan nasional. “Kami juga membahas kesiapan pengiriman pilot TNI AU ke Tiongkok untuk pelatihan pesawat tempur J-10 serta evaluasi fasilitas produksi alutsista,” kata Sjafrie melalui akun Instagramnya dikutip di Jakarta, Indonesia membeli pesawat tempur J-10C China akan sangat berpengaruh geopolitik di wilayah Asia Tenggara. Bahkan para pengamat ahli dari Vietnam menanggapi beberapa hal alasan Indonesia membeli 42 pesawat tempur J-10C buatan Antara lain:

(Pertama).Ketangguhan J-10C saat pertempuran antara Pakistan -India pesawat tersebut berhasil merontokkan Rafale India produksi Prancis, ini membuat posisi J-10C diatas angin.

(Kedua).Harga Pesawat J-10C China sangat murah bahkan dengan biaya operasional yang murah pula ini sesuai dengan anggaran Indonesia dalam segi pertahanan yang minim.

dalam segi kwalitas J-10C sejajar pula dengan F-16 Viper buatan Amerika.

Dengan pembelian pesawat tempur J-10 bekas Cina menyediakan solusi ekonomis, meskipun bekas tapi produk baru bahkan yang memungkinkan Indonesia meningkatkan angkatan udaranya tanpa mengorbankan prioritas lain seperti pengembangan infrastruktur atau belanja sosial.

(Ketiga), pembelian J-10 dari China dapat memberikan keuntungan geopolitik.

Indonesia telah lama mempertahankan kebijakan luar negeri yang liberal dan proaktif, menghindari keselarasan yang terlalu dekat dengan kekuatan besar mana pun.dengan bermitra dengan China, Indonesia tidak hanya mendiversifikasi portofolio pertahanannya tetapi juga mengirimkan sinyal kepada mitra Barat bahwa Indonesia memiliki banyak pilihan.

Namun hal ini juga disertai risiko, karena hubungan dengan AS pemasok lama pesawat F-16 dan dukungan pelatihan dapat berpengaruh pula antara kedua negara.

(red).

Bagikan: